Matinya Badak Jawa di Ujung Kulon

Apr 26, 2019

Kabar duka melanda dunia konservasi. Seekor badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) kembali ditemukan mati di habitat terakhirnya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Provinsi Banten, baru-baru ini.

Otoritas Balai TNUK mengonfirmasi hal tersebut. Bagian Hubungan Masyarakat Balai TNUK Monica Dyah Rahmaningsih mengatakan bahwa satwa langka yang sudah menjadi bangkai itu ditemukan oleh tim patroli di wilayah hutan Citadahan, salah satu wilayah konsentrasi populasi badak Jawa di bagian selatan taman nasional pada 21 Maret 2019.

Baca juga: Taman Nasional Ujung Kulon: Badak Aman dari Tsunami

“Kematian memang ada. Badak mati terakhir itu ditemukan di daerah Citadahan pada siang hari. Saat itu tim sedang patroli dan menemukan ada badak yang sudah mati,” kata Monica melalui percakapan telepon dengan Betahita, Kamis, 25 April 2019.

Badak yang ditemukan berjenis kelamin jantan, usia belum diidentifikasi. Perkiraan masih muda,” tambahnya. 

                                                                                                                                    Badak Jawa (Foto:KLHK)

 

Terkait penyebab kematian, Monica menerangkan belum diketahui secara jelas. Adapun nekropsi telah dilakukan, namun saat ini pihak Balai TNUK masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel bangkai badak Jawa tersebut.

“Tapi yang kita lihat, cula dan badan badak utuh. Luka luar tidak ada dan darah mengalir di beberapa bagian,” kata Monica. 

Monica menambahkan bahwa pihaknya juga masih mengkaji kemungkinan adanya penyakit sebagai penyebab utama kematian satwa tersebut. “Ya kalau penyakit, kita juga mencoba membuka hal itu. Nanti penyebabnya akan kita rilis resmi,” katanya. 

Tahun lalu, seekor badak Jawa lainnya bernama Samson juga ditemukan mati di Pantai Karang Ranjang, Kabupaten Pandeglang, yang termasuk dalam wilayah TNUK. Dari hasil uji patologi, kematian badak jantan dewasa tersebut diduga karena torsio usus (usus besar dan usus kecil terpuntir). Bakteri mikroflora usus kemudian melepaskan racun, yang menyebar ke seluruh tubuh dan merusak organ dalam badak.

Badak Jawa termasuk salah satu mamalia besar terlangka di dunia serta dilindungi undang-undang di Indonesia. International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mendeklarasikan statusnya sebagai Critically Endangered/CR) atau Kritis. Artinya, populasi badak Jawa di alam liar berada di ambang kepunahan.

Saat ini, populasi badak Jawa terakhir diperkirakan sekitar 68 individu di alam liar, dengan dua kelahiran pada 2018. Proporsinya adalah 29 jantan dewasa, 24 betina dewasa, dan 15 badak muda. Dengan kematian terbaru ini, populasi badak Jawa di TNUK berkurang menjadi 67 individu.

Terkait berita duka ini, Monica mengatakan bahwa kematian badak Jawa yang terbaru merupakan salah satu dinamika konservasi satwa langka pemamah flora tersebut.

“Ini bagian dinamika dari populasi badak Jawa. Ada kelahiran, ada kematian. Karena itu kita terus berupaya melestarikannya dengan sebaik-baiknya,” tandas Monica.

Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan TNUK Aris Budi Pamungkas turut membenarkan kabar kematian badak Jawa di TNUK.

“Saya tahu, tapi tidak terlalu tahu detilnya,” katanya melalui percakapan telepon kepada Betahita, Kamis, 25 April 2019.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen KSDAE KLHK) Ir. Wiratno menyatakan sedang menelusuri hasil kajian soal kematian badak Jawa di TNUK.

“Sedang kita telusuri hasil kajiannya. Nanti saya kabari ke media,” kata Wiratno, 2 April 2019 lalu.  

Penulis: Kennial Laia

Editor: Yudono Akhmadi

Foto: Stephen Belcher/International Rhino Foundation

Sebelumnya dalam artikel ini terdapat kesalahan penyebutan jabatan yang tidak sesuai. Dalam artikel sebelumnya, Betahita menuliskan Aris Budi Pamungkas sebagai Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, seharusnya Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Ujung Kulon.